PETA Mengungkapkan Kekejaman terhadap Buaya Dibalik Pembuatan Tas Mewah Hermes

Victoria Beckham saat membawa tas Birkin.

Victoria Beckham saat membawa tas Birkin.

Tas Birkin adalah sebuah tas mewah buatan Hermes yang terbuat dari kulit buaya. Tas ini sering dijadikan simbol eksklusivitas para selebriti dan sosialita. Nama Birkin sendiri pun diambil dari sebuah nama dari seorang selebriti asal Inggris yang tinggal di Prancis (dimana Hermes berasal), Jane Birkin. Tas ini dijadikan simbol kemewahan dan kemakmuran karena harganya yang selangit dan banyak dipakai oleh selebriti ternama. Sebuah tas Birkin dihargai sekitar ratusan juta hingga milyaran rupiah. Namun dibalik kemewahannya, proses pembuatan kantong mahal tersebut telah banyak menyiksa buaya-buaya.

Baru-baru ini kekejaman terhadap buaya dalam pembuatan tas Hermes diungkap organisasi perlindungan hewan, PETA (People for the Ethical Treatment of Animals). Salah seorang anggota yang menyamar berhasil mendapatkan bukti video kekerasan terhadap aligator dan buaya yang akan diambil kulitnya untuk dijadikan sejumlah produk merek asal Prancis itu.


Dari Texas hingga Zimbabwe, peneliti PETA mendokumentasikan kondisi mengerikan di mana hewan dibesarkan dan dibunuh untuk dibuat menjadi tas Birkin, ikat pinggang, dompet, dan jam tangan. Banyaknya buaya yang dikemas dan dibudidayakan di satu kolam beton tandus selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelum akhirnya disembelih untuk diambil kulit mereka. Pengambilan gambar tersebut dilakukan di dua pabrik peternakan, yakni di kota Texas, Amerika Serikat dan di Padenga, Zimbabwe, dimana terdapat pabrik buaya terbesar.

Di Texas, di sebuah pabrik buaya yang mengirim kulit ke pabrik penyamakan kulit milik Hermes, penyidik PETA menemukan fakta bahwa buaya disimpan dalam air berbau busuk dan lembap, gudang gelap tanpa sinar matahari, tanpa tudara segar,anpa air bersih, dan bahkan tanpa perawatan medis dasar. Pada berusia 1 tahun, buaya ditembak dengan pistol jenis tertentu, lalu dipotong secara kasar bahkan saat mereka masih sadar dan bisa merasakan sakit, bahkan beberapa dari mereka berjuang untuk kabur.

Kondisi kandang buaya.

Kondisi kandang buaya.

Dari video terlihat jika para hewan dipelihara di lingkungan yang tidak sehat. Mereka disimpan di sebuah kolam dari beton yang airnya penuh dengan kotoran. Tak hanya itu, kekejaman yang lebih parah terjadi saat mereka akan diambil kulitnya. Terlihat dari video bahwa para buaya dan aligator langsung ditusuk dengan pisau dalam keadaaan yang sepertinya masih sadar. Dikutip dari situs Mirror, hal tersebut dilakukan karena alat penyetrum yang biasanya digunakan untuk melumpuhkan mereka tidak bisa ditemukan.
Proses penyembelihan buaya dimana kepalanya ditusuk dan disogok menggunakan batang besi/logam.

Proses penyembelihan buaya dimana kepalanya ditusuk dan disogok menggunakan batang besi/logam.

Penyidik PETA mendokumentasi bagaimana para pekerja bertindak kasar terhadap buaya saat bekerja. Pekerja tersebut menyogok-nyogok leher buaya beberapa kali menggunakan batang logam untuk mengambil otaknya walaupun buaya tersebut masih terlihat kejang-kejang.
Aligator mati tenggelam dalam kotak es.

Aligator mati tenggelam dalam kotak es.

Setelah itu, hewan-hewan tersebut dilempar ke dalam sebuah tangki es yang penuh darah. Tubuh buaya dan alligator pun masih terlihat bergerak-gerak yang artinya kemungkinan mereka masih hidup dan sedang menderita, serta mati perlahan-lahan karena kedinginan.

“Kami mengambil 42 ribu kulit setiap tahunnya. Jadi kami adalah produsen kulit buaya terbesar di dunia. Kami menyuplai perusahaan di Prancis yaitu Hermes,” ujar Direktur Operasional pabrik buaya Padenga di Zimbabwe, Charles Boddy.

Seorang penyidik PETA menghabiskan satu bulan bekerja menyamar di Lone Star Alligator Farms di Winnie, Texas, antara Oktober dan November tahun lalu (2014). Di Zimbabwe, dua peneliti PETA menyamar untuk bisa melakukan tur di Padenga, salah satu pemasok kulit buaya dan aligator terbesar di dunia. Kedua peternakan dan pemasok kulit itu digunakan oleh Hermes untuk menyediakan kulit bagi produk-produk mereka seperti tas, tali jam, dompet, ikat pinggang dan sepatu.

PETA pun mengharapkan agar Hermes berhenti menggunakan kulit buaya sebagai bahan baku dari produknya. Namun jika tidak bisa, disarankan agar para pekerja memastikan bila hewan-hewan tersebut sudah mati sebelum disayat. Terkait dengan tuduhan penyiksaan terhadap hewan tersebut, Hermes mengaku akan menindaklanjuti kasus ini jika terbukti ada yang menyalahi prosedur.

“Semua kulit yang digunakan Hermes bersumber dari peternakan di mana Hermes menuntut kondisi pertanian terbaik yang sesuai dengan peraturan internasional. Aturan-aturan ini dibuat di bawah naungan PBB yang bermanfaat bagi perlindungan buaya. Hermes terus memverifikasi semua prosedur. Setiap oknum akan ditangani dan dikenakan sanksi,” jelas salah satu juru bicara Hermes.

Bagikan:
Posted in: Tas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *