Keluh Kesah Pengrajin Kulit Garut saat Ekonomi Lesu

Akhir-akhir ini ekonomi Indonesia semakin lesu. Hal ini dipicu oleh turunnya nilai mata uang Rupiah, kurangnya belanja pemerintah, ketidakmampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi, dll. Kelesuan ini merembet ke industri-industri kecil, tak terkecuali industri kerajinan kulit. Seperti diberitakan dari Detik.com, industri produk kulit dalam negeri tengah menghadapi tantangan berat. Mulai dari makin sulitnya mendapat bahan baku lokal, turunnya daya beli masyarakat, persaingan dengan kulit sintetis, hingga melambungnya biaya impor bahan baku yang belum dapat diproduksi di dalam negeri.

“Para pelaku industri kulit kini tantangannya bertubi-tubi. Di Sukarega (Garut), dulu ada 500-an home industri, sekarang yang jalan terus hanya 10-20%nya. Sisanya gulung tikar atau para perajin perorangan, saat pasar lesu begini beralih profesi menjadi bertani,” ungkap Dani Ruswandi, pemilik home industri kerajinan kulit di Garut, Jawa Barat.

Home industri milik Dani, yang berdiri sejak 1993, adalah salah satu yang masih bertahan. Usahanya mulai dari penyamakan kulit, produksi bahan baku kulit, hingga dibuat tas, dompet, sepatu, gesper, dan gantungan kunci. Bahan baku yang dipakai yaitu kulit sapi dan domba lokal yang didapatnya dari Jawa maupun impor.

Pengusaha kulit lainnya, Denny, mengalami nasib yang tak jauh beda, dalam tiga bulan terakhir per bulan penjualan jaket kulit hanya mencapai 900 potong. “Omset turun 50%, biasanya per bulan produksi bisa 2.000 potong jaket,” katanya seperti dikutip di harian Bisnis.

Dani mengakui, kualitas kulit sapi lokal lebih bagus ketimbang impor, namun pasokannya terbatas. “Bagusan kulit lokal sebenernya. Pabrik kulit lokal pun banyak, cuma pasokannya nggak bisa mencukupi kebutuhan pabrik,” ungkapnya. Padahal, menurut Dani, kulit impor yang dikirim ke Indonesia bukan yang kualitas terbaik.

“Kulit impor dari negara penghasil sapi seperti Australia, Amerika, hingga Afrika. Kulit terbaik dipakai di negara mereka sendiri, sisanya yang dikirim ke Indonesia,” terang Dani.

Produk kulit buatannya justru diminati pasar ekspor. Pasar produk helaian kulit sapi miliknya dipasarkan 70% lokal dan 30% ekspor.

“Pasar lokal, kita supply kulit ke pabrik-pabrik sepatu dalam negeri dari yang biasa sampai yang branded. Kulit kita ekspor kirim ke Italia, Mereknya doang Italia, kulitnya Indonesia. Sudah ada juga yang masuk ke China walaupun masih dikit-dikit,” paparnya.

Sampai saat ini, Dani baru mampu mengekspor bahan kulit, belum sampai ekspor produk jadi saperti tas, sepatu, atau jaket. Ia pernah mencoba mengekspor sarung tangan golf ke Vietnam, namun permintaannya terbatas.

“Tas, jaket, kalah dengan buatan luar seperti China dan Italia. Pertama, kalah branded. Kedua, kalah teknologi. Apalagi China udah bisa bikin kulit sintetis,” ungkapnya.

Dani menggambarkan, sebuah tas berbahan kulit sintetis dapat dijual dengan harga Rp 400-500.000, sedangkan tas berbahan kulit sapi asli harganya mencapai Rp 1,5 – 2 juta. Ditambah kondisi saat ini kulit sulit didapat akibat berkurangnya jumlah sapi lokal.

Soal situasi pasar produk kulit, Dani bercerita sambil geleng-geleng kepala. “Daya beli masyarakat menurun. Tinggal gimana kebijakan pemerintah. Bagi pelaku industri kulit, biar harga kulit naik yang penting daya beli masyarakat bisa stabil,” imbuhnya menggelengkan kepala.

Ia pun mengeluhkan makin beratnya biaya untuk impor seperti mesin dan bahan kimia untuk penyamakan yang harus didatangkan dari China. “Bahan-bahan itu kan belinya pake dollar, sementara kita dibayarnya bisa 3-4 bulan. Dibayar harga lama, beli bahan pakai harga dollar yang naik terus,” ujarnya.

“Industri kulit bisa dibilang sedang sakit. Saya mengalami turunnya permintaan bahan baku kulit dari pabrik sepatu. Sebelum tahun 2008, bisa produksi sampai 150.000. Setelah itu, bikin 20.000-30.000 squarefeet per bulan aja udah lumayan,” ungkapnya.

Di saat seperti ini, menurutnya, industri kulit harus dibantu mulai dari ketersediaan pasokan bahan lokal, kepastian pasar, hingga peluang ekspansi pasar mancanegara.

“Industri kulit saat ini mikirnya hanya yang penting punya karyawan masih kebayar, tagihan bank kebayar dan biaya listrik kebayar, nggak bisa bicara untung,” tutupnya.

Kelesuan industri kerajinan kulit di Garut memang memprihatinkan. Kondisi ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun silam, saat produk kerajinan kulit sempat mengalami masa-masa kejayaannya hingga mampu menembus pasar internasional. Saat ini, produk kulit Garut hanya dapat dipasarkan di dalam negeri dengan jumlah yang sangat kecil. Padahal, kualitas kulit yang dihasilkan tak kalah dengan kualitas hasil produksi negara lain.

Bagikan:

One thought on “Keluh Kesah Pengrajin Kulit Garut saat Ekonomi Lesu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *